Sudahkah kita semua mencapai bab di mana kehidupan terurai yang pada titik tertentu akan ada lebih banyak hal yang perlu kita lepaskan? - Banyak dari mereka yang mengharapkan kita (atau kita pikir kita bisa) ingin bertahan di tempat yang sama. Dan ketika itu terjadi, kemungkinan besar kita akan melihat dua arah. Pulang atau berpaling. Tapi tidak apa-apa. Pada akhirnya kita akan belajar bahwa semua baik-baik saja. Kita tidak memiliki segalanya atau semua orang bersama kita, atau mungkin itu hanya ditakdirkan bagi kita untuk punya hal-hal yang lebih baik di masa depan. Pada akhirnya kita akan merasa cukup dan kita akan baik-baik saja. Yap.. Sekali lagi, kita harus baik-baik saja. - Aku sering berkata pada diriku sendiri: "melepaskan orang-orang bukanlah hal yang salah". Anehnya akan terasa tidak menyenangkan, tetapi itulah adanya. Itu normal. Sekarang hanya perlu TANGGUNG JAWAB dan menelaah kesalahan sendiri dan bangkit lag...
Ada beberapa diksi yang cocok untuk membangkitkan dan menanamkan nilai keagamaan kita untuk mencintai apa yang menjadi kesepakatan luhur, yaitu berdiri diatas tanah yang sama dan hidup di satu bangsa yang berkeadilan. Tapi dibalik giatnya penamaan itu, beberapa oknum malah menggunakan itu untuk menyatakan dirinya lebih hebat dari orang lain. Misalnya, keadaan dimana suatu konsensus yang sudah disepakati ingin diubah dan di revisi hingga memenuhi keinginan yang merubahnya. Dalam kehidupan bernegara, salah satu masalah yang paling kentara adalah ketika api sensitif keagamaan di gelorakan demi sebuah kepentingan. Muncullah gerakaan separatis yang berafiliasi pada lisan dan media sosial, mencairkaan gumpalan dendam yang selama ini belum pernah mencuat hanya karena menunggu saat dan moment yang tepat. Nah tugas negara bertambah searah berkecimpungnya para pemuka agama dan umat dalam menyanyikan semangat kebencian. Saya tidak sedang menggeneralisasi semua pernah melakukan itu, tetap...
hari itu Kota Medan bukanlah tempat terakhirku untuk merintis tujuan hidup. Berawal dari keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi, akhirnya harus kembali mengecek tujuan sebenarnya. Dan itu kembali menjadi bahan refleksi selama 5 hari di kota asal tercinta, Teluk Dalam Kab. Nias Selatan. Aku bepergian hanya karena ada 2 alasan Aku rindu dan Aku ingin mengurus sesuatu. Alasan pertama adalah jelas, selama 3 tahun dari kelas 3 SMA sampai memasuki tahun ke 3 masa perkuliahan aku tak pernah menginjakkan kaki ke Nias Selatan, tidak pernah bertemu dengan keluarga. Merantau sejak kelas 1 SMA membuat aku tahu bagaimana rasanya jauh dari keluarga. Menghadapi bermacam rintangan, menerima kekesalan orang lain dan kadang tak mengerti arti aku merantau. Sulit rasanya bagi seorang pendiam seperti aku, memulai kisah hidup yang serba penuh tekanan untuk melanjutkan hidup, karena satu yang harus dituntut adalah keberanian. Lingkungan yang belum tentu cocok dengan kita, harus diterima den...
Komentar
Posting Komentar