Ada beberapa diksi yang cocok untuk membangkitkan dan menanamkan nilai keagamaan kita untuk mencintai apa yang menjadi kesepakatan luhur, yaitu berdiri diatas tanah yang sama dan hidup di satu bangsa yang berkeadilan. Tapi dibalik giatnya penamaan itu, beberapa oknum malah menggunakan itu untuk menyatakan dirinya lebih hebat dari orang lain. Misalnya, keadaan dimana suatu konsensus yang sudah disepakati ingin diubah dan di revisi hingga memenuhi keinginan yang merubahnya. Dalam kehidupan bernegara, salah satu masalah yang paling kentara adalah ketika api sensitif keagamaan di gelorakan demi sebuah kepentingan. Muncullah gerakaan separatis yang berafiliasi pada lisan dan media sosial, mencairkaan gumpalan dendam yang selama ini belum pernah mencuat hanya karena menunggu saat dan moment yang tepat. Nah tugas negara bertambah searah berkecimpungnya para pemuka agama dan umat dalam menyanyikan semangat kebencian. Saya tidak sedang menggeneralisasi semua pernah melakukan itu, tetap...
Sudahkah kita semua mencapai bab di mana kehidupan terurai yang pada titik tertentu akan ada lebih banyak hal yang perlu kita lepaskan? - Banyak dari mereka yang mengharapkan kita (atau kita pikir kita bisa) ingin bertahan di tempat yang sama. Dan ketika itu terjadi, kemungkinan besar kita akan melihat dua arah. Pulang atau berpaling. Tapi tidak apa-apa. Pada akhirnya kita akan belajar bahwa semua baik-baik saja. Kita tidak memiliki segalanya atau semua orang bersama kita, atau mungkin itu hanya ditakdirkan bagi kita untuk punya hal-hal yang lebih baik di masa depan. Pada akhirnya kita akan merasa cukup dan kita akan baik-baik saja. Yap.. Sekali lagi, kita harus baik-baik saja. - Aku sering berkata pada diriku sendiri: "melepaskan orang-orang bukanlah hal yang salah". Anehnya akan terasa tidak menyenangkan, tetapi itulah adanya. Itu normal. Sekarang hanya perlu TANGGUNG JAWAB dan menelaah kesalahan sendiri dan bangkit lag...
Lebih baik mengatasi kecilnya dulu dari pada berhadapan dengan besarnya dan kuatnya Karena kecillah, kita melihat apa yang dibutuhkan, sekitar kehidupannya. Bukan membandingkan. Ilmu lahir dari hal-hal spontan. Tidak langsung dari kondisi fatal. Selama ini orang berpikir kritis tapi gak ada solusi yang menyertainya. Apa perannya? Mengkaji? Memahami? Dan akhirnya lesu.
Komentar
Posting Komentar